Indochina 4 negara, 7 hari..!! Part 4

Indochina 4 negara 7 hari..!! Part 3
February 27, 2019
Ke Bali tanpa pesawat?? bisaaaa dong….!! (part1)
August 19, 2019

Indochina 4 negara, 7 hari..!! Part 4

Sentuhan muslim di Siam Reap, Cambodia

Perjalanan darat dari Bangkok menuju Siam Reap, Kamboja bukan perjalan yang sebentar. Kami harus menggunakan kereta sejak pukul 05 pagi dari Bangkok Railway Station. Kereta in mengantarkan kami sampai distrik Aranyaphratet yang memang berdampingan dengan Poipet di perbatasan Kamboja. Sampai di Aranyaphratet kami menggunakan tuktuk menuju border. Tips untuk travelers yang ingin melakukan perjalanan darat dengan rute ini, abaikan orang-orang yang menawarkan membantu pengurusan paspor di imigrasi. Cukup gunakan tuktuk yang drivernya cukup baik berbahasa Inggris. Proses Imigrasi Thailand tidak begitu rumit apalagi untuk warga Indonesia yang memang tidak memerlukan visa untuk masuk keluar Thailand atau Kamboja. Berjalan dari imigrasi Thailand menuju imigrasi Kamboja – lagi, abaikan calo – dengan arah yang sudah ditentukan siapkan paspor dan custom declaration, isi dengan baik dan benar sesuai paspor kalian.

Setelah mendapat cap resmi sebagai pelancong di Kamboja kami naik bus gratis yang memang disediakan dan akan mengantarkan kita menuju Bus Terminal Poipet. Didalam terminal disediakan banyak moda transportasi menuju Siam Reap dan tentu saja kami memilih yang termurah yaitu dengan minibus yang harus kami tunggu hampir 1 jam lamanya karena minibus tidak akan jalan sebelum penumpang minimal terkumpul sampai 10 orang.

Siam Reap memang kota yang kecil, namun di kota inilah –menurut para pelancong–gerbang awal untuk menyingkap sejarah purbakala kota Angkor zaman dahulu yang masyhur itu. Kota ini dikelilingi oleh kuil-kuil atau candi-candi terkenal di Kamboja; salah satu penanda bahwa  bahwa agama mayoritas masyarakat Siam Reap adalah Budha  (konon sebelum Budha, Hindu merupakan agama mayoritas penduduknya). Salah satu candi terbesar yang membuat nama Siam Reap semakin dikenal adalah Angkor Wat yang terletak 5,5 Km di Utara Siam Reap. Maka tak salah jika julukan city of temple melekat pada Siam Reap

Sampainya di Siam Reap kami disajikan kota yang penuh dengan cerita, mulai dari yang menyeramkan sampai sejarah keberadaan perang Khmer dimasa lalu. Beberapa cerita kami dapatkan bahwa dikala hujan tanah kering disana akan tercium seperti sudah tercampur darah. Berjalan disana tak ayal seperti memasuki kota dengan sejuta misteri, supir tuktuk yang kami sewa mengatakan bahwa ada musium perang yang bisa kita kunjungi disaat Subuh. Well esoknya kami buktikan kesana yang ternyata lokasi benar-benar berada didalam hutan lengkap dengan lolongan anjing saat kita melintas kesana. Tak beruntung saat tiba disana ternyata musium belum dibuka lalu sang driver mengantarkan kami ke sebuah desa dengan temple yang sepertinya juga belum resmi dibuka untuk umum. Sang driver seolah ingin mengetes nyali kami untuk datang kesana, namun nyatanya yang seperti ini memang sudah biasa terjadi. Beberapa wisatawan yang datang menurutnya memang banyak yang ingin membuktikan ke”mistis”an Siam Reap.

Seperti halnya perjalanan ke kota dengan penduduk minoritas Muslim, mencari makanan halal yang bisa kami konsumsi selama di perjalanan adalah hal yang juga kami khawatirkan.  Ketakutan tersebut terus membayangi kami selama menelusuri Siam Reap.  Pasar malam, misalnya, yang sempat kami lalui dipenuhi menu makanan– yang bahkan melihat namanya saja membuat perut kami mual. Setelah bertanya ke sana ke mari mulai dari penjual pakaian, petugas hotel dan pengendara Tuktuk akhirnya kami mendapati jejak Islam di sebuah blok jalan yang tak jauh dari hiruk pikuk wisata malam Siam Reap.

Masjid An-Naekmah di Siam Reap adalah masjid pertama yang kami jumpai. Sayang, kondisi masjid tampak tertutup untuk umum. Hal ini karena waktu kunjungan kami yang bukan di jam shalat. 100 meter dari masjid, kami mendapati restoran halal yang menyediakan menu khas Melayu. Yang menarik dari restoran ini dilengkapi musik Islami khas Indonesia.

“Kok bisa setel musik Islami dari Indonesia?” tanya kami, penasaran.

Jawaban pemilik restoran sungguh membuat kami semakin cinta Indonesia. Katanya, ia ingin sekali berkunjung ke Indonesia, sebab  Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia. Alhamdulillah, senang mendengarnya.

Selepas mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan. Berbekal jawaban dari penduduk An-Naekmah mengenai warga  Muslim di Siam Reap, kami sampai di salah satu sudut kota Siam Reap, yaitu di sekitar Danau Tonle Sap. Di sini terdapat Masjid Ar-Rafee’ah yang  letaknya sebagai pembatas dua desa terapung; di sebelah kiri ada desa dengan  penduduk beragama Budha, sedang  di sisi kanannya warga desa yang menganut Islam. Masjid Ar-Rafee’ah sendiri memiliki tiga kubah kecil  yang didominasi oleh warna merah dan kuning. Di wilayah ini kami bukan hanya menemukan masjid, tapi juga madrasah sebagai pusat studi keIslaman dan pemberdayaan Islam di Tonle Sap.

Perjalanan mencari Islam di negara minoritas semakin meyakinkan kami bahwa setiap Muslim adalah bersaudara. Kehangatan dan cerita yang tak akan tergantikan membuat kami begitu yakin bahwa Islam adalah agama yang dibawa dengan kedamaian. Islam Rahmatan lil ‘alamiin justru semakin kami temukan dalam perjalanan bertemu saudara seiman.

admweb
admweb
marriage traveler from Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *